Keringat mulai mengucur melewati pelipis matanya. Matanya fokus pada jarak satu meter di depan. Langkah kakinya diseret perlahan. Jari-jari tangannya menggenggam erat bibir nampan. Bunyi gesekan gelas seperti berjalan di shirotol mustaqim. Tumpah berarti hilang kepercayaan. Jatuh dan pecah. Habislah sudah. Tatapan mata orang-orang seperti nyalang. Dan ini harus berulang. Biasanya sekitar 4-5 kali jika mereka yang bersila itu sejumlah seratusan orang. Lalu bersemut untuk menggilir makanan yang tersaji dalam piring. Pun harus hati-hati. Tidak fokus, siap tersiram kuah panas. Selesai? Jelas belum. Giliran berikutnya adalah "berkatan" yang dibungkus dengan kain seperti bungkusannya ninja atau musafir. Di dalamnya berisi rantang nasi, lauk dan kue. Begitulah acara selamatan/tasyakuran 20 tahunan lalu. Begitu meriah. Begitu ramah lingkungan. Tidak ada makanan tersisa. Semua sisa makanan dibagi rata kepada tetangga dan sanak saudara yang membantu. Sisa makanan d...