Saya merasa beruntung dilahirkan dari perpaduan jawa, madura dan osing. Bapak saya asli lare osing. Dan ibu saya perpaduan jawa dan madura. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berbicara campuran. Di rumah, bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa. Di keluarga besar bahasa jawa yang berselang-seling dengan bahasa madura. Misal: Pak Lek: Kate nangndi koen Le? Saya: Maen Lek. Pak Lek: O... main meloloh lakonah reh. Dalam pertemanan bahkan lebih unik lagi. Dalam sebuah obrolan berempat bisa jadi saya berbicara dengan A menggunakan bahasa indonesia, dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa madura. A berbicara dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa indonesia. B berbicara dengan C menggunakan bahasa indonesia. Percakapan dengan banyak bahasa seperti ini tidak hanya ditemukan di kota kelahiran saya, Bondowoso. Ini juga bisa ditemukan di tempat tinggal saya, Jember. Menguasai bahasa jawa dan madura sekalipun bukan yang kromo inggil at...
Suatu ketika, usai saya menyampaikan paparan dalam sharing Zero Waste. Seorang peserta nyeletuk, "Pak, kalau gitu tutup saja itu Pabrik Plastik se Indonesia. Beres!" Dalam kesempatan yang lain, di sebuah grup telegram. Seorang peserta nyeletuk, "Kenapa semua-semua jadi sampah yang disalahkan. Banjir yang disalahkan sampah. Penyakit yang disalahkan sampah. Padahal penyebab banjir dan penyakit tidak melulu karena sampah." Di perbincangan yang lain kawan saya menceritakan opini dari sebuah selebritas. "Kalau semua harus berhenti tidak menggunakan plastik. Lalu bagaimana nasib pabriknya? Nasib pekerjanya? Bukannya plastik sangat dibutuhkan dalam semua lini kehidupan?" ................ Dari semua perbincangan di atas, saya memilih diam karena berpikir. Harus dengan cara bagaimana menanggapi komentar seperti di atas. Atas hal yang saya dan beberapa kawan-kawan coba suarakan. Jelas. Tidak ada perjuangan yang mudah. Bukan pula persoalan ...