Skip to main content

Posts

Strategi Kelola Sampah di Desa

Saya merasa beruntung dilahirkan dari perpaduan jawa, madura dan osing. Bapak saya asli lare osing. Dan ibu saya perpaduan jawa dan madura. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berbicara campuran. Di rumah, bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa. Di keluarga besar bahasa jawa yang berselang-seling dengan bahasa madura. Misal: Pak Lek: Kate nangndi koen Le? Saya: Maen Lek. Pak Lek: O... main meloloh lakonah reh. Dalam pertemanan bahkan lebih unik lagi. Dalam sebuah obrolan berempat bisa jadi saya berbicara dengan A menggunakan bahasa indonesia, dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa madura. A berbicara dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa indonesia. B berbicara dengan C menggunakan bahasa indonesia. Percakapan dengan banyak bahasa seperti ini tidak hanya ditemukan di kota kelahiran saya, Bondowoso. Ini juga bisa ditemukan di tempat tinggal saya, Jember. Menguasai bahasa jawa dan madura sekalipun bukan yang kromo inggil at...
Recent posts

Pegiat Sampah: Berjuang Tidak Sebercanda Itu

Suatu ketika, usai saya menyampaikan paparan dalam sharing Zero Waste. Seorang peserta nyeletuk, "Pak, kalau gitu tutup saja itu Pabrik Plastik se Indonesia. Beres!" Dalam kesempatan yang lain, di sebuah grup telegram. Seorang peserta nyeletuk, "Kenapa semua-semua jadi sampah yang disalahkan. Banjir yang disalahkan sampah. Penyakit yang disalahkan sampah. Padahal penyebab banjir dan penyakit tidak melulu karena sampah." Di perbincangan yang lain kawan saya menceritakan opini dari sebuah selebritas. "Kalau semua harus berhenti tidak menggunakan plastik. Lalu bagaimana nasib pabriknya? Nasib pekerjanya? Bukannya plastik sangat dibutuhkan dalam semua lini kehidupan?" ................ Dari semua perbincangan di atas, saya memilih diam karena berpikir. Harus dengan cara bagaimana menanggapi komentar seperti di atas. Atas hal yang saya dan beberapa kawan-kawan coba suarakan. Jelas. Tidak ada perjuangan yang mudah. Bukan pula persoalan ...

Pak Ndul Sang Inspirator Youtuber

Dari sekian banyak pelajaran yang saya pelajari untuk menjadi seorang Youtuber adalah Konten berada pada urutan pertama. Dalam dunia digital marketing pun dikenal dengan istilah " Content is King". Masalahnya adalah Konten yang seperti apa? Yang paling banyak dicari di youtube adalah konten hiburan. Wajar saja sebenarnya, apalagi saat ini kita dijejali dengan konten berita tentang carut marutnya dunia kampanye menuju pemilu. Orang-orang mudah stress dan butuh sekali dengan hiburan. Dalam konten hiburan pun masih ada macamnya. Ada cerita parodi, cerita kehidupan artis, musik parodi, musik artis, cover musik, film, film pendek, gaming dan lain-lain. Konten kedua yang dicari oleh masyarakat adalah konten informasi. Informasi ini berisi berita apa saja. Tapi biasanya yang paling banyak dicari adalah berita yang lagi viral. Konten ketiga yang dicari adalah edukasi. Berisi tentang segala macam bentuk edukasi yang umumnya adalah tutorial. Yang bisa memadukan ketig...

Fotokopi Sampah

Dalam setiap perhelatan Jember Fashion Carnival yang digelar di setiap tahunnya, saya selalu tertarik dengan anak-anak SMA yang menenteng Karung dan Kardus. Hilir mudik. Bergerombol tiga sampai lima orang. Pun ketika event karnaval yang juga kerap berlangsung. Meminta sampah dari para penonton. Terkadang hingga memungut yang berserakan di jalanan. Yang membuang sampah sembarangan tidak malu. Tidak punya malu tepatnya. Justru mereka, anak-anak muda itu yang menjadi perhatian banyak orang. Aneh, menurut mereka. Kok mau-maunya ngambil sampah, kan kotor, pikir mereka yang lain. Saya begitu takzim. Tapi saya bukan tipikal orang yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Jadi memilih biar semesta yang mempertemukan dengan inisiatornya. ............................. Gambar dari sini Dalam sebuah grup whatsapp, saya kembali di tag karib saya perihal sampah. Raiku wis rai sampah koyok'e  Isi pesannya seperti ini: Saya dapat info ini: "Hai.. buat teman2 mahasiswa dan ...

Aturan Sampah: Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa

Kamis, 28 Februari 2019 kemarin. Pada saat yang bersamaan saya mendapatkan kiriman berita mengenai sampah. Berita pertama yang saya baca adalah tentang kebijakan Aprindo yang memberlakukan tas kresek berbayar (lagi) sebesar Rp. 200,- mulai tanggal 1 Maret 2019. Berita kedua tentang Munas Ulama NU yang merekomendasikan bahwa membuang sampah sembarangan adalah haram. Kebijakan Aprindo dan Rekomendasi Munas Ulama NU tentu saja menjadi hal baik yang harus diapresiasi semua pihak. Ya, walaupun tetap saja pasti menuai pro kontra di masyarakat. Saya berpikir positif saja bahwa Gerakan Zero Waste yang bergeliat dari akar rumput ini cukup membuahkan hasil. Walaupun tidak bisa dibilang sudah berhasil. Apalagi selesai. Karena ini adalah perjalanan panjang hingga semua elemen masyarakat mampu melaksanakan 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Rot, Recycle, Responsibility). Seorang kawan saya pernah mengeluh dengan gerakan akar rumput ini. "Percuma Cak, saya bersama rekan-reka...

Ngevlog Zero Waste: Sebuah Lompatan Pertama

Terkadang di beberapa malam sejak tiga bulan terakhir ini, saya mengalami kegelisahan. Bukan saja karena sampah. Bukan saja karena belum benar-benar berhasil Nol Sampah. Tetapi karena memikirkan sejauh mana jangkauan suara saya terdengar. Mengapa begitu penting? Hingga gelisah? Dalam alur pikiran saya mengenai permasalahan sampah itu begini. Diawali dari akses informasi lalu menuju pada kesadaran kemudian pada upaya aksi bagi yang tergerak lalu pengulangan informasi yang lebih detail lalu rutinitas atau bisa diartikan gaya hidup. Alur yang panjang. Dengan tempo yang lama. Perhitungannya itu jika jumlah masyarakat adalah 100% maka masyarakat yang menerima informasi perihal sampah secara lengkap paling banyak hanya 40%nya saja. Dari 40% itu kemudian sadar bahwa sampah benar-benar menjadi masalah adalah 80%nya. Atau 32% dari total masyarakat. Yang kemudian bergerak? Hanya 50%nya saja yaitu menjadi 16%. Lalu hanya sekitar 8% saja yang akan melakukan pengulangan sambil mendalami i...

Bersihkan Jawa Timur dari Popok

Kerja Pertama Gubernur Khofifah: Bersihkan Popok! Begitulah judul berita yang muncul dari sebuah laman portal berita daring. Di hari yang sama pelantikan Gubernur Jawa Timur. Pilgub Jatim 2018 yang diselenggarakan pada tanggal 27 Juni 2018 dimenangkan oleh pasangan Khofifah-Emil. Dengan Hasil perolehan suara 53,55% atau 10.465.218 suara. Namun Khofifah-Emil baru dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Februari 2018. Jelang sehari setelah Masa jabatan Gubernur Soekarwo berakhir. Usai pelantikan, Khofifah menjelaskan Program 99 Hari Pertama Kerja Gubernur. Bukan 100, tetapi 99 Hari. Yang dibagi menjadi 3. Gambar dari sini Belum ada detail Program 99 Hari Kerja tersebut yang saya temukan di daring. Namun beberapa hal yang menjadi perhatian khusus beliau adalah percepatan pelayanan perijinan dan pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan. Khofifah juga berencana menambah jumlah Rumah Sakit milik Pemprov di beberapa daerah. Kesejahteraan Guru Tidak Tetap...