Skip to main content

Strategi Kelola Sampah di Desa

Saya merasa beruntung dilahirkan dari perpaduan jawa, madura dan osing. Bapak saya asli lare osing. Dan ibu saya perpaduan jawa dan madura.

Sejak kecil, saya sudah terbiasa berbicara campuran. Di rumah, bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa. Di keluarga besar bahasa jawa yang berselang-seling dengan bahasa madura. Misal:
Pak Lek: Kate nangndi koen Le?
Saya: Maen Lek.
Pak Lek: O... main meloloh lakonah reh.

Dalam pertemanan bahkan lebih unik lagi. Dalam sebuah obrolan berempat bisa jadi saya berbicara dengan A menggunakan bahasa indonesia, dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa madura. A berbicara dengan B menggunakan bahasa jawa, dengan C menggunakan bahasa indonesia. B berbicara dengan C menggunakan bahasa indonesia.

Percakapan dengan banyak bahasa seperti ini tidak hanya ditemukan di kota kelahiran saya, Bondowoso. Ini juga bisa ditemukan di tempat tinggal saya, Jember.

Menguasai bahasa jawa dan madura sekalipun bukan yang kromo inggil atau enggih bunten ini adalah modal penting dalam bersosialisasi. Setidaknya itu yang saya rasakan dalam pekerjaan di kantor pun dalam kegiatan pemberdayaan.

........................

Kemarin, saya sharing kelola rumah minim sampah di Dusun Sumberpetung, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Jember. Sekalipun sudah beberapa kali ke kawasan kaki gunung Raung ini, saya masih saja bingung. Sempat kesasar sekali, untungnya pakai GPS (Gunakan Penduduk Setempat) dengan berbahasa madura. Dan sampailah dengan selamat.

Dari awal sampai akhir menyampaikan materi menggunakan Bahasa Madura. Karena yang sepuh-sepuh bahkan gak bisa Bahasa Indonesia. Dalam beberapa istilah, saya masih harus menanyakan istilah setempat ke ibu-ibu yang masih muda.
Tau nggak istilah styrofoam dalam bahasa mereka?
KETRING. Iya KETRING yang CATERING itu, hehehe....

.........

Sampah di Dusun Sumberpetung ini begitu mengerikan. Sepanjang jalan sampah plastik begitu berserakan. Di sumber yang biasa digunakan warga untuk cuci piring, cuci baju dan mandi; ada begitu banyak sachet kemasan shampo, sabun dan pasta gigi.



Grebeg Sedekah pernah mengajak kawan-kawan dari daerah sekitar untuk sosialisasi masalah kebersihan sampah dan memungut serta membersihkan sampah di sumber. Bersih hanya seminggu lalu kembali dengan kebiasaan semula.
Dalam program Relawan Mengajar yang sudah berjalan hampir setahun ini, Grebeg Sedekah kembali berinisiatif untuk mengajak warga membuat ecobrick. Rencananya ecobrick tersebut akan dijadikan WC Umum. Tapi warga enggan karena menganggap itu pekerjaan pemulung.

Di kesempatan kemarin, saya menegaskan tentang BIG WHY-nya. Kenapa harus membuat ecobrick. Bercerita tentang bahayanya sampah. Dan dalam komunitas masyarakat yang 100% muslim tentunya lebih mengena ketika menyampaikan apa yang sudah tercantum dalam AL-Quran.
Setelah mantuk-mantuk dan nampak sorot mata yang bingung dalam arti berpikir. Maka langkah selanjutnya adalah saya dan kawan-kawan yang berpikir. Langkah apa yang paling tepat harus diambil untuk kelanjutannya.


............

Masalah sampah jelas masalah yang sangat kompleks. Butuh strategi yang tepat untuk mengubah pola pikir masyarakat akan ketergantungannya kepada plastik dan rasa praktis membuang sampah dimana saja yang penting bukan di depan rumahnya.

Sosialisasi penting tapi harus ada keberlanjutan program. Pendampingan baik, tapi masyarakat tidak bisa terus menerus dituntun dan disuapi. Disini yang saya sampaikan bahwa butuh strategi tepat.

Bermainnya harus semacam jinak-jinak merpati. Butuh tapi gak butuh. Gak butuh tapi butuh. Apalagi kerja sosial secara swadaya begini. Pun harus mengukur kemampuan diri mulai dari waktu dan tenaga.

Pada kegiatan sosialisasi di awal itu tidak mengena karena beberapa faktor. Yang pertama, sosialisasinya di lakukan di halaman terbuka dan siang hari membuat warga enggan memperhatikan. Kedua, nampak seperti kita yang butuh mereka mendengar dan melakukan sambil kita ajak bersih-bersih sampah. Yang ada justru kita yang paling banyak mengumpulkan sampah. Karena lagi-lagi mereka gak butuh dan gak ngerti kenapa harus dibersihkan.
Pada program ecobrick, lemahnya lagi-lagi seolah-olah kita yang butuh ecobrick dari mereka. Karena belum dijelaskan kenapa nya.

Dalam skala model pemberdayaan begini, akan selalu dibutuhkan imbal balik. Melakukan apa, mendapatkan apa. Maka dipilihlah model Bank Sampah. Sampah menjadi dipilah dan berkurang. Warga mendapatkan "nilai" dari sampah yang dikumpulkan. Jelas ini lebih menarik.

Karena konsepnya harus jinak-jinak merpati. Maka mendampingi tanpa menuntun dan menyuapi. Ditawarkan konsep tersebut kepada Pak RT. Gambaran sederhananya. Untuk kemudian Pak RT mengajak satu atau dua orang lagi yang mau diajak kerja. Dengan asumsi keuntungan yang didapatkan pengurus nantinya sesuai gambaran kasar.

Tiga minggu lagi, dua atau tiga orang tersebut akan kami ajak ke Bank Sampah milik Muji. Relawan BPBD yang juga turut serta kemarin. Bank Sampah milik Muji berada di Desa Suci, Kecamatan Panti. Dan telah berhasil menggandeng warga di Desa Suci serta beberapa sekolah sekitar Kecamatan Panti.

Apakah ini berhasil? Tentu saja saya tidak tahu. Tapi setidaknya mereka tahu bahwa kami "juga" tidak butuh tempat mereka bersih. Jika mereka tertarik dengan iming-iming yang akan didapatkan nanti. Maka kami akan bertemu dengan mereka yang sudah siap belajar konsep mengelola Bank Sampah. Bonusnya? Tentu saja Lingkungan yang bersih.

Comments

Popular posts from this blog

Aturan Sampah: Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa

Kamis, 28 Februari 2019 kemarin. Pada saat yang bersamaan saya mendapatkan kiriman berita mengenai sampah. Berita pertama yang saya baca adalah tentang kebijakan Aprindo yang memberlakukan tas kresek berbayar (lagi) sebesar Rp. 200,- mulai tanggal 1 Maret 2019. Berita kedua tentang Munas Ulama NU yang merekomendasikan bahwa membuang sampah sembarangan adalah haram. Kebijakan Aprindo dan Rekomendasi Munas Ulama NU tentu saja menjadi hal baik yang harus diapresiasi semua pihak. Ya, walaupun tetap saja pasti menuai pro kontra di masyarakat. Saya berpikir positif saja bahwa Gerakan Zero Waste yang bergeliat dari akar rumput ini cukup membuahkan hasil. Walaupun tidak bisa dibilang sudah berhasil. Apalagi selesai. Karena ini adalah perjalanan panjang hingga semua elemen masyarakat mampu melaksanakan 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Rot, Recycle, Responsibility). Seorang kawan saya pernah mengeluh dengan gerakan akar rumput ini. "Percuma Cak, saya bersama rekan-reka...

Senja di Bumi Senentang

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan rintik dan genangan-genangan air. Di Tanah gambut yang telah dipadatkan. Ada empat bis yang telah bersiap di depan kantor pangkalan bis borneo. Nomer yang acak tertera di kaca depan. Mirip acara darmawisata waktu sekolah dulu, batin saya. Ini perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Tujuannya mengantarkan ibu mertua ke rumah kakak di Sintang. Setelah meletakkan tas dorong ke bagasi, saya segera masuk ke dalam Bis mencari tempat duduk sesuai tiket. Wow!!! Itulah ungkapan yang keluar saat melihat interior Bis ini. Royal Class. Tempat duduk 2-1 dengan model persis tempat duduk bioskop kelas VVIP. Jujur sebenarnya saya sudah agak trauma naik Bis. Apalagi ini perjalanan malam selama 6 jam. Tapi melihat interior yang lengkap saya sedikit lega. Tentu saja yang saya perhatikan terlebih dahulu adalah toiletnya. Tepat pukul 19.00 Bis Borneo melaju. Membelah hutan-hutan sawit. Nella kharisma mulai diperdengarkan. Sayang ya...

The Secret Life of Walter Mitty

"Hal yang indah tak membutuhkan perhatian" begitu kata Sean O'Connell dalam film bertajuk The Secret Life of Walter Mitty yang dirilis pada tahun 2013 ini. Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube. Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube. Keset Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty. Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan han...