Hujan baru saja berhenti. Menyisakan rintik dan genangan-genangan air. Di Tanah gambut yang telah dipadatkan.
Ada empat bis yang telah bersiap di depan kantor pangkalan bis borneo. Nomer yang acak tertera di kaca depan. Mirip acara darmawisata waktu sekolah dulu, batin saya.
Ini perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Tujuannya mengantarkan ibu mertua ke rumah kakak di Sintang.
Setelah meletakkan tas dorong ke bagasi, saya segera masuk ke dalam Bis mencari tempat duduk sesuai tiket. Wow!!! Itulah ungkapan yang keluar saat melihat interior Bis ini. Royal Class. Tempat duduk 2-1 dengan model persis tempat duduk bioskop kelas VVIP.
Jujur sebenarnya saya sudah agak trauma naik Bis. Apalagi ini perjalanan malam selama 6 jam. Tapi melihat interior yang lengkap saya sedikit lega. Tentu saja yang saya perhatikan terlebih dahulu adalah toiletnya.
Tepat pukul 19.00 Bis Borneo melaju. Membelah hutan-hutan sawit. Nella kharisma mulai diperdengarkan. Sayang yang berlanjut dengan Konco Turu. Ibu Mertua sudah sedikit mendengkur lirih.
Hujan kembali turun. Saya masih asyik menggambar. Mata belum juga bisa terpejam. Tak lama kemudian Bis berhenti di sebuah warung. Waktu menunjukkan pukul 22.00
Mulut saya terasa masam. Perut mulai terasa gak karuan. Tidak ada selera untuk makan ataupun minum kopi. Mungkin ini karena siang tadi asyik menghabiskan senampan Chai Kwe isi bengkuang yang kecut dengan sambal yang super pedas.
Karena waktu yang sangat pendek ditambah hujan mengguyur deras Kota Khatulistiwa, saya hanya sempat berkunjung ke Tugu Khatulistiwa. Konon katanya belum ke Pontianak kalau belum ke Tugu Khatulistiwa. Dilanjutkan dengan wisata kuliner.
Tugu BI Sintang. Tepat pukul 02.00 dini hari. Kami turun. Berjalan mengitari tugu berlawanan arah dengan posisi bis berhenti, lalu masuk ke sebuah rumah sederhana berbahan kayu. Toko buah Pak Ustadz. Aroma petrikor menyeruak. Rupanya hujan juga baru usai turun.
Bumi Senentang
Belum tuntas membayar hutang tidur, angin dingin telah menerpa wajah kantuk ini. Escudo yang nampak renta melaju dengan kecepatan tinggi, demi mengejar subuh di kampung seberang. Berhenti di depan sebuah masjid tepat di pinggir pantai Sungai Kapuas.
Pantai. Begitu masyarakat menyebut sebuah kawasan sempadan Sungai Kapuas.
Jamaah Subuh mulai berdatangan. Setelah sholat Subuh usai dilanjutkan kajian rutin bulanan. Kata Abah Wahid, suami Kakak Ipar menjelaskan bahwa total jamaah yang hadir berkisar antara 200 hingga 500 orang yang hadir dari sekitaran Kabupaten Sintang. Pejabat-pejabatpun turut ikut serta. Saat itu ada beberapa Kepala Dinas, Asisten dan mantan Sekretaris Daerah.
Saya yang tak kuasa menahan kantuk dikagetkan dengan tepukan di bahu, kode untuk menggeser konsumsi yang dibagikan. Ada air mineral kemasan dan nogosari serta telur rebus.
Kajian usai berbarengan dengan matahari yang baru terbit.
Saya memilih berjalan-jalan sendiri. Menuju Hutan Wisata Baning. Sayangnya saya tidak menemukan pintu masuk. Tidak terawat. Sungguh sayang. Padahal tempat ini begitu potensi menjadi Hutan Wisata yang bagus jika dikelola dengan baik. Bahkan kawasannya mencapai luas 215Ha menurut data dari KPH Sintang Utara.
Beruntung saya masih bisa memotret kera berjenis lutung dengan nama daerahnya "Berok" yang sedang asyik bergelantungan di pinggir jalan.
Saya lalu melanjutkan perjalanan mengitari kota sintang dan beristirahat di Taman Alun-alun. Bukan seperti alun-alun yang ada di Jawa. Ini adalah Taman di kawasan "Pantai" Sungai Kapuas. Memesan secangkir kopi dan kerupuk basah.
Menikmati pemandangan yang ada di bawah. Rumah-rumah perahu, mereka menyebutnya Perahu Bandong. Sungai Kapuas dulunya adalah jalur transportasi utama di Borneo. Jejak kejayaannya dapat dilihat dari masyarakat yang masih setia tinggal di Perahu Bandong sampai saat ini.
Sambil menyeruput kopi tentunya saya memotret aktifitas orang-orang yang tinggal di Perahu Bandong. Setelah kerupuk basah agak dingin, barulah saya menyantapnya. Ini bukan seblak ya Kerupuk basah sepintas mirip empek-empek atau otak-otak. Bahannya adalah Daging ikan belida, tepung kanji dan bumbu. Diolah dengan bentuk memanjang lalu dikukus dan disajikan dengan sambal.
Perjalanan berikutnya adalah menuju Keraton Al Mukarrimah Kesultanan Sintang. Sayangnya tidak berhasil bertemu Sultan karena sedang pelesir ke Pontianak. Jadinya gak berhasil nengok museum Dara Juanti. Penasaran sebenarnya perkawinan dua budaya Dayak dan Majapahit. Dara Juanti sendiri kisahnya adalah istri dari Patih Lohgender. Sejarahnya silahkan googling saja ya
Bersebelahan dengan Masjid Jami' Sultan Nata. Yang dibangun pada masa kepemimpinan Pangeran Agung (Sultan Nata) sekitar tahun 1672.
Dua bangunan bersejarah ini semua menghadap ke Sungai Kapuas.
Saat sore menjelang, kawasan ini begitu ramai dikunjungi anak-anak muda. Bersantai menikmati kuliner dengan latar senja Sungai Kapuas.
Saya jadi membayangkan betapa riuhnya kawasan tersebut pada masa kejayaannya. Slogan Presiden bahwa kita jangan lagi memunggungi laut harusnya juga diterapkan dengan jangan memunggungi sungai.
Tahun 2008 adalah saat dimana kesadaran saya terbuka lebar bahwa seharusnya kita menjadikan sungai dan laut sebagai halaman depan rumah kita. Bukan halaman belakang yang selalu identik dengan kotoran. Saat itu saya tengah mengikuti diklat manajemen pengelolaan pesisir.
Semoga harapan itu benar-benar bisa terwujud nantinya. Saya berdoa dalam hati sambil melintasi tumpukan sampah yang telah menggunung di dekat Taman Entuyut menuju rumah Kakak.
Comments
Post a Comment