"Hal yang indah tak membutuhkan perhatian" begitu kata Sean O'Connell dalam film bertajuk The Secret Life of Walter Mitty yang dirilis pada tahun 2013 ini.
Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube.
Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube.
Keset
Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty.
Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan hancur. Dan pada kenyataannya saya hanya sedikit berargumen lalu kalah pada kata "pokoknya" yang akhirnya membuat saya untuk memilih diam saja.
Bawahan. Bagaimanapun hebatnya hanyalah keset bagi atasan. Sekalipun posisi berada di depan, tapi sekedar alas untuk membersihkan kaki atasannya. Yup, tidak semua yang bersikap songong. Ada juga yang menghargai bawahan. Sayangnya begitu langka.
Seperti Walter Mitty, penghargaan terbesar adalah dedikasi penuh pada apa yang dikerjakan. Tokoh yang diperankan oleh Ben Stiller ini berposisi sebagai Manager Aset Negatif pada Penerbit Majalah LIFE, menjalani pekerjaannya selama kurun waktu 16 tahun.
Zaman berubah yang menuntut pengambil kebijakan mengganti pola kerja. Dan mengharuskan untuk dilakukan efisiensi dengan pemangkasan jumlah karyawan yang "dirasa" tidak penting.
Walter Mitty tidak peduli dengan itu. Yang dia pedulikan adalah segera menyelesaikan pekerjaannya, menemukan negatif nomer 25 yang akan digunakan untuk sampul majalah terakhir sebelum majalah daring terbit pertama kali.
Mengharuskannya pergi menuju Greenland, Iceland hingga Afghanistan mencari Sean O'connell guna menanyakan negatif nomer 25. Itu adalah dedikasi tinggi seorang karyawan.
Ted Sang Bos Baru tidak peduli apa yang telah diperjuangkan Walter Mitty. Yang dia mau hanyalah Negatif nomer 25. Dan yang dia tahu adalah Walter Mitty ceroboh karena menghilangkannya. Dalam dunia kerja akan selalu ada sosok Bos seperti ini, yang bahkan tidak benar-benar paham "nyawa" dari perusahaan yang dijalankannya. Persis seperti saat Walter Mitty menanyakan Motto dari Penerbit Majalah LIFE pada Ted saat melemparkan Negatif nomer 25 yang ditemukannya.
Sampul terakhir dari Majalah LIFE itu adalah intisari dari hadirnya Majalah LIFE itu sendiri menurut Sean O'connell. Dan sampul itu adalah Potret Walter Mitty saat mengamati Negatif Film yang menunjukkan sosok karyawan berdedikasi tinggi.
Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube.
Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube.
Keset
Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty.
Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan hancur. Dan pada kenyataannya saya hanya sedikit berargumen lalu kalah pada kata "pokoknya" yang akhirnya membuat saya untuk memilih diam saja.
Bawahan. Bagaimanapun hebatnya hanyalah keset bagi atasan. Sekalipun posisi berada di depan, tapi sekedar alas untuk membersihkan kaki atasannya. Yup, tidak semua yang bersikap songong. Ada juga yang menghargai bawahan. Sayangnya begitu langka.
Seperti Walter Mitty, penghargaan terbesar adalah dedikasi penuh pada apa yang dikerjakan. Tokoh yang diperankan oleh Ben Stiller ini berposisi sebagai Manager Aset Negatif pada Penerbit Majalah LIFE, menjalani pekerjaannya selama kurun waktu 16 tahun.
Zaman berubah yang menuntut pengambil kebijakan mengganti pola kerja. Dan mengharuskan untuk dilakukan efisiensi dengan pemangkasan jumlah karyawan yang "dirasa" tidak penting.
Walter Mitty tidak peduli dengan itu. Yang dia pedulikan adalah segera menyelesaikan pekerjaannya, menemukan negatif nomer 25 yang akan digunakan untuk sampul majalah terakhir sebelum majalah daring terbit pertama kali.
Mengharuskannya pergi menuju Greenland, Iceland hingga Afghanistan mencari Sean O'connell guna menanyakan negatif nomer 25. Itu adalah dedikasi tinggi seorang karyawan.
Ted Sang Bos Baru tidak peduli apa yang telah diperjuangkan Walter Mitty. Yang dia mau hanyalah Negatif nomer 25. Dan yang dia tahu adalah Walter Mitty ceroboh karena menghilangkannya. Dalam dunia kerja akan selalu ada sosok Bos seperti ini, yang bahkan tidak benar-benar paham "nyawa" dari perusahaan yang dijalankannya. Persis seperti saat Walter Mitty menanyakan Motto dari Penerbit Majalah LIFE pada Ted saat melemparkan Negatif nomer 25 yang ditemukannya.
Sampul terakhir dari Majalah LIFE itu adalah intisari dari hadirnya Majalah LIFE itu sendiri menurut Sean O'connell. Dan sampul itu adalah Potret Walter Mitty saat mengamati Negatif Film yang menunjukkan sosok karyawan berdedikasi tinggi.



Comments
Post a Comment