Skip to main content

Bersihkan Jawa Timur dari Popok

Kerja Pertama Gubernur Khofifah: Bersihkan Popok! Begitulah judul berita yang muncul dari sebuah laman portal berita daring. Di hari yang sama pelantikan Gubernur Jawa Timur.

Pilgub Jatim 2018 yang diselenggarakan pada tanggal 27 Juni 2018 dimenangkan oleh pasangan Khofifah-Emil. Dengan Hasil perolehan suara 53,55% atau 10.465.218 suara. Namun Khofifah-Emil baru dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Februari 2018. Jelang sehari setelah Masa jabatan Gubernur Soekarwo berakhir.

Usai pelantikan, Khofifah menjelaskan Program 99 Hari Pertama Kerja Gubernur. Bukan 100, tetapi 99 Hari. Yang dibagi menjadi 3.

Gambar dari sini


Belum ada detail Program 99 Hari Kerja tersebut yang saya temukan di daring. Namun beberapa hal yang menjadi perhatian khusus beliau adalah percepatan pelayanan perijinan dan pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan. Khofifah juga berencana menambah jumlah Rumah Sakit milik Pemprov di beberapa daerah.

Kesejahteraan Guru Tidak Tetap juga menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan beban gaji pegawai APBD Provinsi bertambah karena sekolah setingkat SMA dan SMK menjadi tanggung jawab Provinsi dari yang sebelumnya berada pada kewenangan Kabupaten. PKH plus jelas masuk dalam Program 99 Hari juga. Sebagai mantan Menteri Sosial tentu kesejahteraan masyarakat akan menjadi fokus beliau.

Dalam sektor UKM, beliau menargetkan satu buah produk dari tiap pesantren yang memiliki SMK yang ada di Jawa Timur. Bukan sekedar menghasilkan produk tetapi juga pendampingan packaging hingga digital marketingnya.

Kembali pada paragraf pertama di atas. Yang menjadi fokus saya adalah Program Bersihkan Popok dan Adopsi Sungai Brantas. Ini masuk di dalam Program 99 Hari Pertama beliau.

Dalam keterangannya di beberapa media daring menjelaskan, "Ada 2,9 juta diapers bayi yang dipakai tiap hari di Jawa Timur. 1,2 jutanya itu dibuang di sungai. Maka kita ingin ada 99 jembatan yang kita ingin turun. Karena ini program non APBD, saya ingin mengajak para volunteer juga CSR Perusahaan untuk menaruh tempat2 sampah seperti truk atau tronton di 99 jembatan tersebut.

Sedangkan untuk adopsi sungai brantas beliau berharap setiap car free day semua masyarakat turun ke sungai untuk membersihkan sungai.

Dengan ini saya berharap besar akan keluarnya Perda Jawa Timur tentang pengelolaan sampah seperti di Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar, Bogor, Bandung dan Malang.
.......

Di Karangploso, Malang terdapat Bank Sampah Kepuh Kreatifa yang berhasil membuat kerajinan dari Sampah Popok Bekas. Produk yang dihasilkan adalah pot bunga, sandal, pigura, wadah serbaguna dan asbak.

Prinsip kerjanya hampir sama dengan pemanfaat handuk bekas menjadi pot bunga. Untuk Popok Bekas mayoritas isi gelnya akan dijadikan media tanam. Ini masih menjadi perdebatan diantara para pegiat lingkungan. Karena terdapat kandungan Sodium Polyacrylate (SAP), Dioxin, Pewangi dan Tributyl Tin (TBT) yang dapat membahayakan kesehatan. Dapat mengakibatkan iritasi, demam, masalah hormonal serta kanker.

Beberepa hari yang lalu saya ingin mencoba mengaplikasikan sampah popok bekas ini (keseluruhannya) menjadi salah satu bahan dalam produk paving block. Sayangnya masih belum sukses. Karena paving yang saya buat dengan alat ala kadarnya ini masih terlalu berat. Tapi saya yakin bisa diaplikasikan seperti pembuatan paving blok dengan bahan plastik cacahan (tanpa dibakar).

Dari semua upaya upcycle sampah popok bekas tersebut, tentunya jauh lebih baik jika beralih menggunakan clodi (cloth diapers) dan menspad bagi ibu-ibu. Selain lebih aman yang jelas lebih hemat. Resikonya jelas lebih ribet.

Sebagai upaya tanggung jawab kita terhadap lingkungan tentu jalan ribet ini tetap harus kita lakukan. Secara bertahap. Karena sampah yang kita hasilkan sendiri itu tanggung jawab kita.

.......

Selamat bekerja Ibu Khofifah dan Pak Emil yang akan fokus pada pengenbangan kawasan selatan Jawa Timur. Semoga terus semangat untuk memajukan Jawa Timur dengan memperhatikan asas kelestarian lingkungan.

Comments

Popular posts from this blog

Aturan Sampah: Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa

Kamis, 28 Februari 2019 kemarin. Pada saat yang bersamaan saya mendapatkan kiriman berita mengenai sampah. Berita pertama yang saya baca adalah tentang kebijakan Aprindo yang memberlakukan tas kresek berbayar (lagi) sebesar Rp. 200,- mulai tanggal 1 Maret 2019. Berita kedua tentang Munas Ulama NU yang merekomendasikan bahwa membuang sampah sembarangan adalah haram. Kebijakan Aprindo dan Rekomendasi Munas Ulama NU tentu saja menjadi hal baik yang harus diapresiasi semua pihak. Ya, walaupun tetap saja pasti menuai pro kontra di masyarakat. Saya berpikir positif saja bahwa Gerakan Zero Waste yang bergeliat dari akar rumput ini cukup membuahkan hasil. Walaupun tidak bisa dibilang sudah berhasil. Apalagi selesai. Karena ini adalah perjalanan panjang hingga semua elemen masyarakat mampu melaksanakan 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Rot, Recycle, Responsibility). Seorang kawan saya pernah mengeluh dengan gerakan akar rumput ini. "Percuma Cak, saya bersama rekan-reka...

Senja di Bumi Senentang

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan rintik dan genangan-genangan air. Di Tanah gambut yang telah dipadatkan. Ada empat bis yang telah bersiap di depan kantor pangkalan bis borneo. Nomer yang acak tertera di kaca depan. Mirip acara darmawisata waktu sekolah dulu, batin saya. Ini perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Tujuannya mengantarkan ibu mertua ke rumah kakak di Sintang. Setelah meletakkan tas dorong ke bagasi, saya segera masuk ke dalam Bis mencari tempat duduk sesuai tiket. Wow!!! Itulah ungkapan yang keluar saat melihat interior Bis ini. Royal Class. Tempat duduk 2-1 dengan model persis tempat duduk bioskop kelas VVIP. Jujur sebenarnya saya sudah agak trauma naik Bis. Apalagi ini perjalanan malam selama 6 jam. Tapi melihat interior yang lengkap saya sedikit lega. Tentu saja yang saya perhatikan terlebih dahulu adalah toiletnya. Tepat pukul 19.00 Bis Borneo melaju. Membelah hutan-hutan sawit. Nella kharisma mulai diperdengarkan. Sayang ya...

The Secret Life of Walter Mitty

"Hal yang indah tak membutuhkan perhatian" begitu kata Sean O'Connell dalam film bertajuk The Secret Life of Walter Mitty yang dirilis pada tahun 2013 ini. Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube. Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube. Keset Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty. Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan han...