Dalam setiap perhelatan Jember Fashion Carnival yang digelar di setiap tahunnya, saya selalu tertarik dengan anak-anak SMA yang menenteng Karung dan Kardus. Hilir mudik. Bergerombol tiga sampai lima orang. Pun ketika event karnaval yang juga kerap berlangsung.
Meminta sampah dari para penonton. Terkadang hingga memungut yang berserakan di jalanan. Yang membuang sampah sembarangan tidak malu. Tidak punya malu tepatnya. Justru mereka, anak-anak muda itu yang menjadi perhatian banyak orang. Aneh, menurut mereka. Kok mau-maunya ngambil sampah, kan kotor, pikir mereka yang lain.
Saya begitu takzim. Tapi saya bukan tipikal orang yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Jadi memilih biar semesta yang mempertemukan dengan inisiatornya.
.............................
![]() |
| Gambar dari sini |
Dalam sebuah grup whatsapp, saya kembali di tag karib saya perihal sampah. Raiku wis rai sampah koyok'e Isi pesannya seperti ini:
Saya dapat info ini:
"Hai.. buat teman2 mahasiswa dan pelajar yg mau ngeprint tugas ato fotocopy tapi mau yg murah, dpt diskon, atau bahkan gratiss... gampang
Kini hadir tempat fotocopy yg bayarnya bisa pake sampah lho...
Jl.Kalimantan IV/2A Jember
Info: Dina (08124942360)"
Jl.Kalimantan IV/2A Jember
Info: Dina (08124942360)"
Lantas saya tanya, "sampahnya pakai sampah apa Kak?". Karena sama-sama tidak tahu akhirnya menjadi diskusi yang absurd. Begitulah.
Keesokan harinya saya coba mengirim pesan kepada nama yang tertera di pesan sampah itu. Melalui whatsapp. Dan langsung terbalaskan.
Rupanya konsepnya adalah Bank Sampah, yang dipadukan dengan usaha fotokopi. Bank Sampah ini buka setiap hari. Menurut informasi yang diberikan via whatsapp. Lalu saya masuk grup tersebut.
Sepi. Grup whatsapp yang adem ayem saja. Lantas saya memperkenalkan diri. Dan nge-tag salah satu anggota whatsapp yang sangat saya kenal. Sedikit ramai. Tapi hanya kami berdua. Lalu sepi lagi. Hanya beberapa informasi muncul dari Dina. Sekali, dua kali.
Saya meminta ijin untuk bertemu. Rencana awal wawancara langsung. Untuk keperluan bahan vlog saya. Namun urung lantaran baru dapat janji temu malam hari. Rentan noise jika recording malam hari tanpa peralatan memadai.
Ngobrol saja. Kenalan.
Rupanya beliau adalah Guru Biologi SMAK Santo Paulus. Yang merupakan inisiator Gerakan bersih-bersih oleh Anak-anak muda yang saya ceritakan di awal. Begitulah takdir membawa perjumpaan kami.
Saya memang orang yang irit bicara. Lebih-lebih pada orang yang baru kenal. Apalagi orang yang tidak dikenal.
Tapi tidak, jika justru bertemu dengan orang yang satu frekuensi. Bahkan tidak terasa sudah satu jam ngobrol tanpa jeda. Di akhir perjumpaan, saya berjanji untuk membantu menemani Fotokopi Sampah ini. Akan memposting di akun media sosial milik saya. Sok yakin saja bakal ramai dilike.
Ternyata, bahkan postingan di facebook itu sudah dibagikan berkali-kali. Oleh teman ataupun yang bukan teman di Facebook. Intuisi saya masih sehat rupanya. Karena konsep ini konsep yang tepat dari banyak hal. Tepat tempatnya. Tepat sasarannya. Tepat momentnya.
Di vlog saya Ahad depan 17 Maret 2019, saya rencanakan untuk memasukkan Fotokopi Sampah ini dalam salah satu set-nya. Menjadi satu kesatuan dalam memilah sampah. InsyaALLAH.

Comments
Post a Comment