Skip to main content

Ngevlog Zero Waste: Sebuah Lompatan Pertama

Terkadang di beberapa malam sejak tiga bulan terakhir ini, saya mengalami kegelisahan. Bukan saja karena sampah. Bukan saja karena belum benar-benar berhasil Nol Sampah. Tetapi karena memikirkan sejauh mana jangkauan suara saya terdengar.

Mengapa begitu penting? Hingga gelisah?

Dalam alur pikiran saya mengenai permasalahan sampah itu begini. Diawali dari akses informasi lalu menuju pada kesadaran kemudian pada upaya aksi bagi yang tergerak lalu pengulangan informasi yang lebih detail lalu rutinitas atau bisa diartikan gaya hidup. Alur yang panjang. Dengan tempo yang lama.

Perhitungannya itu jika jumlah masyarakat adalah 100% maka masyarakat yang menerima informasi perihal sampah secara lengkap paling banyak hanya 40%nya saja. Dari 40% itu kemudian sadar bahwa sampah benar-benar menjadi masalah adalah 80%nya. Atau 32% dari total masyarakat. Yang kemudian bergerak? Hanya 50%nya saja yaitu menjadi 16%. Lalu hanya sekitar 8% saja yang akan melakukan pengulangan sambil mendalami informasi. Dan menjadikannya gaya hidup.

Coba bayangkan. Diantara produksi sampah yang terus bertambah. Hanya 8% saja yang benar-benar menerapkan Reduce-Reuse-Recycle.

Maka saya berpikir seandainya masyarakat yang menerima informasi ini semakin luas, tidak hanya 40% saja.

Kanal digital ini memang menjadi satu-satunya tumpuan besar untuk penyebarluasan informasi. Facebook dan Instagram sudah saya pergunakan. Juga whatsapp dengan fitur statusnya. Blog ini pun juga menjadi wadah penyebaran informasi. Lalu apa?

Selain empat aplikasi media sosial tersebut, ada satu aplikasi yang sering saya pakai untuk menambah ilmu. Youtube, selain menambah ilmu terkadang juga saya mencari hiburan ringan di sana. Atau mengunduh video buat anak saya.

Menonton orang-orang yang begitu pede berbicara dengan luwes di depan kamera. Menyampaikan gagasan-gagasan. Informasi. Kreatifitas. Atau sekedar menghibur. Membuat saya takjub. Kok iso yo. Saya beberapa kali melihat Duniamanji. Di Jember ada Tepe46. Saat dia berhasil memenangkan challenge dari Raditya Dika. Hingga kollabs bersama. Juga ketika kollabs bareng Anji. Beberapa minggu yang lalu. Bayu SkakMat yang berhasil membuktikan bahwa orang lokal juga punya kreatifitas luar biasa.

Saya pikir bukan ide buruk jika saya juga mencoba untuk membuat Video Blog. Tentu saja tentang segala macam hal informasi mengenai dunia sampah ini. Tapi mesti belajar ke siapa. Kalau ngomong lama di depan banyak orang. Itu sudah sering. Ngomong sendiri di depan kamera? Itu hal yang beda.

Hari Rabu, 20 Februari 2019 tepatnya. Saya beranikan diri mencoba. Di Aula kantor. Mumpung sepi. Meja dan kursi saya tata. Korden saya tutup. Lampu hidupkan. Kardus saya letakkan di atas meja. Dan kamera saya taruh di atasnya. Hanya satu angel saja.

Percobaan pertama pakai mode selfie. Gagal. Melihat wajah sendiri di layar kamera, terasa aneh. Percobaan kedua. Masih mode selfie. Gagal lagi. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut. Tidak ada script memang. Tapi saya tahu apa yang akan saya sampaikan. Prolog. Pengenalan dulu. Saya siapa. Ini channel tentang apa. Nanti akan mendapatkan informasi apa. Begitu yang diajarkan oleh Firdaus, kawan saya. Saat saya minta untuk diajarkan ngevlog. Bukan tatap muka. Hanya via chatting saja.

Layar kamera saya kembalikan pada posisinya. Saya atur ulang sekenanya. Saya tes sekitar 4 detik. Saya lihat hasilnya. Oke. Hanya posisi kepala saya begitu mepet dengan sisi layar paling atas. Tripod saya hilang. Saya tambahkan dengan benda lain di atas kardus. Saya malah kelihatan kecil. Di layar hanya nampak kepala saja nongol di sisi bawah. Jelek. Saya mundurkan posisi layar agak ke belakang. Malah terlihat kardusnya. Jelek. Sudahlah. Kembali awal saja. Masih lumayan. Walau kepala menyundul layar atas. Ini pertama. Jangan sempurna. Gak mungkin juga. Karena perut saya mulas. Selalu begitu.

"Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Eee..... Perkenalkan nama saya Cak Oyong. Biasa dipanggil begitu. Eee.... Teman-teman ada juga yang memanggil Cak O. Eeee..... supaya lebih singkat saja.... Eeee.....". Lalu mengalir saja. Bicara saja. Walaupun banyak Eee... nya. Lalu kawan saya Dino Puguh dengan baik hati mau membantu edit itu video. 6 jam. Dan selesai.


Vlog ini saya paksa juga untuk unggah rutin setiap Ahad. Persis dengan artikel di Blog ini. Yang saya paksakan untuk terbit setiap Ahad pagi. Tidak ada maksud khusus. Supaya sama saja. Supaya dinanti juga. Seperti saya menanti tulisan Abah Dahlan Iskan di setiap pagi. Atau tulisan anaknya di setiap Rabu.

Lompatan pertama berhasil saya lalui. Begitu banyak yang memberi support. Baik berupa subscribe. Yang ternyata ini begitu penting bagi Youtuber. Semacam orang yang berlangganan koran. Menjadi perhitungan berapa banyak oplah koran tersebut. Kurang lebih begitu. Ada juga yang memberi komentar. Yang lain memberi like. Ada yang bahkan turut membagikan video tersebut kepada grup2 WA yang dimiliki. Sampai detik saya menulis ini bahkan sudah ditonton sebanyak 96 kali. Kawan-kawan yang lain memberi dukungan melalui WA pribadi. Siap menanti video berikutnya. Yang saya rencanakan akan saya terbitkan pada Ahad tanggal 3 Maret 2019 nanti. Karena Ahad sekarang (24 Februari 2019) terlalu mepet dengan Vlog pertama.

Hari Jumat justru saya membuat video kedua. Masih tanpa tripod. Kali ini pengambilan gambarnya dibantu oleh Dino. Kawan saya yang masih sangat muda. Bisa diving. Menyanyi. Main gitar. Juga sudah produksi beberapa video bersama teman-temannya. Hari sabtunya dia edit video kedua ini. Sudah lihat videonya? Jangan lupa subscribe, like, komen dan bagikan ya.


Memang begitu harus dipromosikan terus. Walaupun ini bukan dagangan. Tapi seperti perhitungan saya di awal tadi. Semakin banyak masyarakat yang mendapatkan informasi mengenai sampah. Semakin banyak pula persentase orang yang kemudian aktif menjadikan zero waste ini sebagai gaya hidup.

Kalau kamu? Channel youtube-nya apa?

Comments

Popular posts from this blog

Aturan Sampah: Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa

Kamis, 28 Februari 2019 kemarin. Pada saat yang bersamaan saya mendapatkan kiriman berita mengenai sampah. Berita pertama yang saya baca adalah tentang kebijakan Aprindo yang memberlakukan tas kresek berbayar (lagi) sebesar Rp. 200,- mulai tanggal 1 Maret 2019. Berita kedua tentang Munas Ulama NU yang merekomendasikan bahwa membuang sampah sembarangan adalah haram. Kebijakan Aprindo dan Rekomendasi Munas Ulama NU tentu saja menjadi hal baik yang harus diapresiasi semua pihak. Ya, walaupun tetap saja pasti menuai pro kontra di masyarakat. Saya berpikir positif saja bahwa Gerakan Zero Waste yang bergeliat dari akar rumput ini cukup membuahkan hasil. Walaupun tidak bisa dibilang sudah berhasil. Apalagi selesai. Karena ini adalah perjalanan panjang hingga semua elemen masyarakat mampu melaksanakan 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Rot, Recycle, Responsibility). Seorang kawan saya pernah mengeluh dengan gerakan akar rumput ini. "Percuma Cak, saya bersama rekan-reka...

Senja di Bumi Senentang

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan rintik dan genangan-genangan air. Di Tanah gambut yang telah dipadatkan. Ada empat bis yang telah bersiap di depan kantor pangkalan bis borneo. Nomer yang acak tertera di kaca depan. Mirip acara darmawisata waktu sekolah dulu, batin saya. Ini perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Tujuannya mengantarkan ibu mertua ke rumah kakak di Sintang. Setelah meletakkan tas dorong ke bagasi, saya segera masuk ke dalam Bis mencari tempat duduk sesuai tiket. Wow!!! Itulah ungkapan yang keluar saat melihat interior Bis ini. Royal Class. Tempat duduk 2-1 dengan model persis tempat duduk bioskop kelas VVIP. Jujur sebenarnya saya sudah agak trauma naik Bis. Apalagi ini perjalanan malam selama 6 jam. Tapi melihat interior yang lengkap saya sedikit lega. Tentu saja yang saya perhatikan terlebih dahulu adalah toiletnya. Tepat pukul 19.00 Bis Borneo melaju. Membelah hutan-hutan sawit. Nella kharisma mulai diperdengarkan. Sayang ya...

The Secret Life of Walter Mitty

"Hal yang indah tak membutuhkan perhatian" begitu kata Sean O'Connell dalam film bertajuk The Secret Life of Walter Mitty yang dirilis pada tahun 2013 ini. Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube. Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube. Keset Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty. Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan han...