Keringat mulai mengucur melewati pelipis matanya. Matanya fokus pada jarak satu meter di depan. Langkah kakinya diseret perlahan. Jari-jari tangannya menggenggam erat bibir nampan.
Bunyi gesekan gelas seperti berjalan di shirotol mustaqim. Tumpah berarti hilang kepercayaan. Jatuh dan pecah. Habislah sudah. Tatapan mata orang-orang seperti nyalang.
Dan ini harus berulang. Biasanya sekitar 4-5 kali jika mereka yang bersila itu sejumlah seratusan orang.
Lalu bersemut untuk menggilir makanan yang tersaji dalam piring. Pun harus hati-hati. Tidak fokus, siap tersiram kuah panas.
Selesai? Jelas belum. Giliran berikutnya adalah "berkatan" yang dibungkus dengan kain seperti bungkusannya ninja atau musafir. Di dalamnya berisi rantang nasi, lauk dan kue.
Begitulah acara selamatan/tasyakuran 20 tahunan lalu. Begitu meriah. Begitu ramah lingkungan. Tidak ada makanan tersisa. Semua sisa makanan dibagi rata kepada tetangga dan sanak saudara yang membantu. Sisa makanan di piring, dicuci untuk dijemur sebagai nasi karak atau untuk makanan ayam.
![]() |
| Salah satu model berkatan/ater ater (Foto : Antara) |
Aqua dengan merek dagang awal bernama Puritas sebenarnya sudah ada sejak tahun 1973. Menyasar konsumen orang-orang luar negeri yang berkunjung ke Indonesia. Kemasan yang digunakan adalah botol kaca.
Pasar Aqua semakin luas sejak dimiliki oleh Danone pada tahun 1998. Kemasan gelas plastik digunakan. Beberapa "orang kaya" sudah menggunakannya pada resepsi pernikahan putra putrinya.
Saat itu para sesepuh sering berkata, "Ngasih tamu kok air putih dibungkus gelas plastik. Ndak sopan."
Saya mengingat betul ucapan itu. Sama juga dengan berkatan yang dikemas dengan karton. Ndak sopan. Silaturrahmi nya akan hilang.
.................
Bapak saya seorang penjahit. Sebagai satu-satunya anak laki-laki maka tugas wira wiri adalah tugas saya. Mengantarkan baju yang sudah selesai salah satunya. Baju yang sudah disetrika dan dilipat rapi itu dibungkus dengan kertas koran dengan lipatan khusus menyerupai saku.
Jika dekat, saya cukup menenteng baju yang sudah dibungkus koran itu. Berjalan kaki. Jika harus naik sepeda, maka bungkusan baju tersebut dimasukkan ke dalam tas jinjing yang dicangklongkan di setir supaya tidak jatuh.
Karyawan bapak ada sekitar 6 orang. Kalau ibu sedang sibuk membantu menjahit maka saya akan disuruh membeli soto ayam di warung. Dibekali uang dan wadah serupa rantang tapi lebih kecil. Bapak akan sangat marah kalau saya enggan membawa wadah dengan beralasan di warung di bungkus plastik. "PAMALI!!!" begitu kata Bapak. Ndak sopan makanan dibungkus dengan plastik.
Itu 20 tahunan yang lalu.
Sekarang terjadi pergeseran budaya yang luar biasa berkebalikan.
Dalam setiap selamatan/tasyakuran akan selalu ada berkardus-kardus air minum dalam kemasan. Menyajikan teh dalam gelas kaca? Siap-siap saja digunjing. Ndeso! Begitu kata mereka.
![]() |
| Sedotan Plastik yang masuk di hidung Penyu. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=dbavqPrS8Ns |
Berkatan sudah berubah kemasan lebih parah. Dari rantang yang dibungkus kain ke besek plastik dibungkus tas kresek ke kotakan dibungkus tas kresek dan sekarang kemasan sterofoam dibungkus kresek.
Bungkus baju dengan koran sudah berubah dengan plastik bening dan tas kresek.
Membeli makanan dengan wadah justru akan merasa malu. Atau penjual akan memaksa membungkusnya dengan plastik dan kresek.
Selamatan/tasyakuran tak lagi seriuh dulu. Semua sudah dimudahkan dengan katering. Tetangga dan sanak saudara berkunjung hanya sebagai syarat. Tak lagi membantu tenaga, cukup amplop berisi uang untuk membantu katering atau wedding organizer yang nilainya wow itu.
Dua puluhan tahun saja. Dan Negeri kita tercinta sudah tak sehijau dulu lagi. Laut kita tak sebiru dulu lagi. Sampai kapan?



Comments
Post a Comment