Skip to main content

Istiqomah Ahad


Ahad, 5 Jumadil Akhir 1440H

Kemarin sore. Ketika saya bersama istri dan anak baru saja tiba di rumah mertua, smartphone di kantong celana berbunyi. Notifikasi whatsapp.

Setelah salim kepada ibu mertua, saya membukanya. Chat whatsapp itu. Ternyata dari kawan saya yang merantau ke kota tetangga. Dia menanyakan perihal "status" yang saya share. Gambar sedotan bambu yang baru dibeli seorang kawan saya yang lain.

Rupanya dia yang memproduksi. Lalu otak bisnis saya mulai mengatur strategi-strategi. Otomatis. Selalu saja begitu. Seakan tersistem setiap mendengar keyword: usaha.

Istri bertanya, "Chat siapa tadi?". Kami biasa bertanya begitu. Biasa saling membuka smartphone masing-masing. Bahkan pin smartphone kami pun sama. Tidak ada rahasia. Karena percuma juga. Setiap kali saya punya rahasia, istri saya pasti tahu. Entah bagaimana caranya.

Lalu saya bercerita bahwa ternyata kawan saya yang share sedotan bambu itu, diproduksi oleh kawan saya yang lain. Kemudian istri menimpali, "enak Bi kalau jualan juga. Kan Abi sekarang lagi concern kampanye zero waste.". Kemudian istri tersadar dengan ucapannya. Lalu tertawa. Saya juga tertawa. Lebih keras.

"Bunda lho yang usul. Bukan Abi." Sahut saya setelahnya. Istri saya manyun. Ini adalah poin Resolusi 2019 ketiga yang saya langgar lagi nantinya. Entah kata istiqomah serasa menjadi kelemahan saya yang belum berhasil saya taklukkan.



Resolusi 2019 yang pertama saya langgar adalah tidak tidur lagi setelah sholat subuh. Kata istri, saya hobi tidur. Saya tidak bisa membantah. Apalagi orangtua saya sendiri justru mengiyakan. Perilaku ini memang sudah saya lakukan sejak sekolah dulu.

Iya. Saya tahu. Ini tidak baik. Ini menghambat jalan rejeki. Saya baru tidak tidur kalau ada kajian di Masjid. Sayangnya kajian bakdha subuh tidak setiap hari ada. Lalu saya membaca sebuah artikel di facebook. Intinya kalau sangat mengantuk, tunggu satu jam setelah sholat subuh, baru boleh tidur. Ini semacam penyelamat. Jamaah subuh selesai pukul 04.20. Selama satu jam-an itu saya isi dengan mendengarkan kajian dari youtube. Sambil bantu istri beberes. Masuk waktu syuruk sekitar pukul 05.28 saya ambil wudhu. Lalu tidur kembali. Lumayan bisa tidur satu jam lagi.

Yang kedua sebenarnya berkaitan dengan yang pertama. Olahraga. Yang saya tidak punya hobi. Tapi saya sadar efek buruknya nanti. Tapi tidak enak olah raga sendirian. Istri saya tidak mau. Dia berdalih sudah olah raga beberes seisi rumah seriap hari.

Saya paksakan. Tanpa ada AHA moment. Jalan kaki saja. Keliling perumahan. Hanya bertahan tiga hari. Setelahnya tidak lagi. Sampai sekarang. Padahal sudah unduh aplikasi Pedometer. Maunya biar eksis. Bisa diposting. Lalu jadi pemicu semangat. Tapi rasa malas lebih kuat. Ada saja alasan penghibur. Hujanlah. Dinginlah. Pusinglah. Hingga tak perlu alasan lagi untuk tidak olahraga.

...............

Saya tidak membuat Resolusi perihal tulis menulis. Karena bisa dipastikan akan terlanggar juga. Itu kenapa saya tidak ikut challenge 30 Hari Bercerita. Tapi saya kagum teramat sangat kepada mereka yang berhasil menyelesaikannya. Tanpa telat. Dan sering penasaran. Apa AHA Moment nya hingga bisa istiqomah.

Rupanya 30 Hari menulis tanpa jeda itu biasa. Disway.id nya Dahlan Iskan malah berhasil menulis setiap hari selama setahun. Sekalipun jiwa jurnalis nya beliau yang membuatnya terbiasa. Tapi saya tetap kagum. Karena ini website saja. Menulis dan bukan menulis yang bekerja.

Saya? 30 Hari tanpa jeda saja tidak sanggup. Apalagi setahun. Mustahil. Apalagi tanpa AHA Moment. Lebih mustahil.

Ternyata Azrul Ananda. Anak Dahlan Iskan itu. Yang populer dengan DBL-nya itu. Yang juga jurnalis itu. Yang mengasuh rubrik khusus anak muda dengan judul Happy Wednesday itu. Mengikuti jejak Ayahnya membuat website happywednesday.id yang tayang setiap hari Rabu. Sama persis dengan namanya.

Lalu saya membayangkan. Rutin menulis seminggu sekali. Bisa dicoba sepertinya. Karena istiqomah ini harus ditaklukkan. Supaya bisa menguasai diri sendiri. Sama juga dengan berperang melawan hawa nafsu.

Seperti sebuah quote yang pernah saya baca. Kurang lebihnya seperti ini. Umur manusia itu pendek. Tulisan yang bisa memanjangkannya.

Selamat berhari Ahad





Comments

  1. Best eCOGRA Sportsbook Review & Welcome Bonus 2021 - CA
    Looking 바카라 사이트 for an https://deccasino.com/review/merit-casino/ eCOGRA Sportsbook Bonus? At this eCOGRA Sportsbook aprcasino review, we're talking https://septcasino.com/review/merit-casino/ about a https://sol.edu.kg/ variety of ECCOGRA sportsbook promotions.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aturan Sampah: Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa

Kamis, 28 Februari 2019 kemarin. Pada saat yang bersamaan saya mendapatkan kiriman berita mengenai sampah. Berita pertama yang saya baca adalah tentang kebijakan Aprindo yang memberlakukan tas kresek berbayar (lagi) sebesar Rp. 200,- mulai tanggal 1 Maret 2019. Berita kedua tentang Munas Ulama NU yang merekomendasikan bahwa membuang sampah sembarangan adalah haram. Kebijakan Aprindo dan Rekomendasi Munas Ulama NU tentu saja menjadi hal baik yang harus diapresiasi semua pihak. Ya, walaupun tetap saja pasti menuai pro kontra di masyarakat. Saya berpikir positif saja bahwa Gerakan Zero Waste yang bergeliat dari akar rumput ini cukup membuahkan hasil. Walaupun tidak bisa dibilang sudah berhasil. Apalagi selesai. Karena ini adalah perjalanan panjang hingga semua elemen masyarakat mampu melaksanakan 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Rot, Recycle, Responsibility). Seorang kawan saya pernah mengeluh dengan gerakan akar rumput ini. "Percuma Cak, saya bersama rekan-reka...

Senja di Bumi Senentang

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan rintik dan genangan-genangan air. Di Tanah gambut yang telah dipadatkan. Ada empat bis yang telah bersiap di depan kantor pangkalan bis borneo. Nomer yang acak tertera di kaca depan. Mirip acara darmawisata waktu sekolah dulu, batin saya. Ini perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Tujuannya mengantarkan ibu mertua ke rumah kakak di Sintang. Setelah meletakkan tas dorong ke bagasi, saya segera masuk ke dalam Bis mencari tempat duduk sesuai tiket. Wow!!! Itulah ungkapan yang keluar saat melihat interior Bis ini. Royal Class. Tempat duduk 2-1 dengan model persis tempat duduk bioskop kelas VVIP. Jujur sebenarnya saya sudah agak trauma naik Bis. Apalagi ini perjalanan malam selama 6 jam. Tapi melihat interior yang lengkap saya sedikit lega. Tentu saja yang saya perhatikan terlebih dahulu adalah toiletnya. Tepat pukul 19.00 Bis Borneo melaju. Membelah hutan-hutan sawit. Nella kharisma mulai diperdengarkan. Sayang ya...

The Secret Life of Walter Mitty

"Hal yang indah tak membutuhkan perhatian" begitu kata Sean O'Connell dalam film bertajuk The Secret Life of Walter Mitty yang dirilis pada tahun 2013 ini. Saya bukan penggemar berat film. Hanya kalau tiba-tiba penasaran saja saya menontonnya. Terkadang di bioskop, tapi yang paling sering menonton di Facebook atau YouTube. Di linimasa Facebook tiba-tiba Poster The Secret Life of Walter Mitty ini muncul. Rasa penasaran akhirnya membuat saya berselancar di Facebook dan YouTube. Keset Sebuah kata yang muncul ketika menonton adegan-adegan awal film ini. Saya dibuat geregetan dengan sikap Sang Bos baru yang songongnya minta ampun. Tiba-tiba saya merasa seperti Walter Mitty. Begitulah dunia kerja. Tak jarang juga saya berkhayal seperti Walter Mitty saat jengkel dengan kebijakan semaunya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berimajinasi sedang berteriak seperti auman harimau yang membuat rambut dan pakaiannya lepas. Atau menggebrak meja hingga seluruh bangunan han...